Beranda

19 Agustus 2009

Teknologi Kinerja dan Proses Belajar


A. Teknologi Kinerja
Elvis Keith Lester mengemukakan Teknologi Kinerja adalah serangkaian metode, prosedur, dan strategi yang sistematis untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kinerja. Kegiatan tersebut dapat diaplikasikan baik untuk level individual, kelompok kecil, maupun organisasi besar. Bentuk-bentuk intervensi/solusinya dapat dilakukan dalam bentuk informasi, komunikasi, pengembangan organisasi, pelatihan, work/job design, manajemen kinerja, rekayasa lingkungan, ergonomic, feedback system, reward, coaching, perubahan budaya, electronic support system, dan lain-lain.


B. Persepsi dan Belajar
Persepsi adalah awal dari segala macam kegiatan belajar yang bisa terjadi pada setiap kesempatan, disengaja atau tidak. Kemp dan Dayton (1985) mengatakan persepsi sebagai suatu proses di mana seseorang menyadari keberadaan lingkungan serta dunia yang mengelilinginya. Persepsi terjadi karena setiap manusia memiliki indra untuk menyerap objek serta kejadian di sekitarnya. Persepsi dapat memengaruhi cara berpikir, bekerja, serta bersikap seseorang. Hal ini terjadi karena orang tersebut dalam mencerna informasi dari lingkungan melakukan adaptasi sikap, pemikiran, atau perilaku terhadap informasi tersebut.

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143).

Persepsi menjadi landasan berpikir seseorang dalam belajar. Persepsi dalam belajar berpengaruh terhadap daya ingat, pembentukan konsep, dan pembinaan sikap. Tujuan belajar sebenarnya adalah mengembangkan persepsi kemudian mewujudkannya menjadi kemampuan-kemampuan yang tercermin dalam cara berpikir (kognitif), bekerja motorik, serta bersikap.


C. Teknologi Kinerja dan Proses Belajar
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Kurikulum yang dikembangkan sekolah saat ini menuntut perubahan pendekatan pembelajaran yang mulanya berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan masa depan anak yang harus memiliki keterampilan berpikir dan belajar (thinking and learning skils), seperti keterampilan memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan keterampilan berkomunikasi. Berbagai keterampilan yang diharapkan bisa dimiliki siswa dapat terwujud jika guru mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan yang menantang siswa untuk berpikir kritis.

Selain pendekatan pembelajaran, siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan teknologi informasi canggih khususnya yang berbasis elektronik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi perlu dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan teknologi informasi untuk pengelolaan pengetahuan dalam konteks organisasi belajar dan pengembangannya dapat dilakukan antara lain dengan cara sebagai berikut: (1) membangun e-literacy untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Aplikasi teknologi informasi sebaiknya dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas, khususnya dalam pembelajaran melalui e-learning atau e-training, (2) aplikasi teknologi informasi secara online system dengan menggunakan intranet yang memberikan kemudahan untuk berbagi informasi, (3) membangun website pada setiap unit kerja yang disinergikan menjadi organization portal untuk meningkatkan kinerja, dan (4) kebijakan manajemen yang menerapkan teknologi informasi untuk komunikasi perlu disosialisasikan kepada seluruh karyawan, misalnya penggunaan e-mail.

Dalam pembelajaran, guru dituntut untuk menyiapkan unit plan. Di dalam unit plan, guru seyogianya mengarahkan rencana pembelajaran dalam sebuah kerangka pertanyaan berdasarkan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang ada dalam kurikulum. Curriculum frame Question (CFQ) adalah sebagai alat untuk mengarahkan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas sehingga sesuai dengan tujuan yang direncanakan.

Dalam rencana pembelajaran, guru pun perlu memberikan kesempatan pada siswa untuk melaporkan hasil kajiannya dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk blog, wiki, poster, newsletter atau laporan. Kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) harus dirancang dalam rencana pembelajaran. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi melalui kajian yang mereka kerjakan.

Teknologi kinerja mempunyai pengaruh besar dalam instruksional, terutama dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang ada dalam bidang instruksional. Teknologi kinerja dan proses belajar tidak dapat dipisahkan, keduanya berkaitan erat. Dalam teknologi kinerja proses belajar dilakukan secara terus menerus demi tercapainya kinerja manusia yang lebih tinggi.

* Penulis: A. Effendi Sanusi


Referensi:
Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar. 2004. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Seels, Barbara B. dan Rita C. Richey. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya. Jakarta: Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta.




18 Agustus 2009

Ilmu Logika


Ilmu Logika merupakan suatu istilah yang terdiri atas dua kata: ilmu dan logika. Secara harfiah, ilmu bermakna ‘pengetahuan atau kepandaian, baik tentang segala yang masuk jenis kebatinan maupun yang berkenaan dengan keadaan alam dsb.’ (Pusat Bahasa, 2006).

Pengetahuan dapat dibedakan atas dua macam: pengetahuan biasa dan ilmu. Pengetahuan biasa adalah pengetahuan yang dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari tanpa mengetahui seluk-beluk yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, tidak mengetahui sebabnya demikian dan apa sebabnya harus demikian. Sebaliknya, ilmu adalah pengetahuan yang tujuan utamanya adalah untuk mencapai kebenaran: ingin tahu yang mendalam, tahu benar apa sebabnya demikian, dan mengapa harus demikian.

Manusia dalam memahami alam sekitar terjadi proses yang bertingkat: dari pengetahuan (sebagai hasil tahu manusia) dan ilmu. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu manusia yang sekadar menjawab pertanyaan "apa". Misalnya, apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya. Ilmu (science) bukan sekadar menjawab "apa", melainkan akan menjawab pertanya-an "mengapa" dan "bagaimana". Misalnya, mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernapas, dan seterusnya. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu, tetapi ilmu dapat menjawab mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi. Jika pengetahuan itu mempunyai sasaran tertentu, mempunyai metode atau pendekatan untuk mengkaji objek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis dan diakui secara universal, terbentuklah disiplin ilmu. Poedjawijatna (2004) mengatakan suatu pengetahuan bisa disebut ilmu jika memenuhi persyaratan berikut: berobjektivitas, bermetodos, universal, dan bersistem.

Apakah yang dimaksud dengan logika? Logika berasal dari kata logos (dalam bahasa Latin) yang berarti ‘perkataan’ atau ‘sabda’. Dalam bahasa Arab dikenal dengan kata mantiq yang artinya ‘berucap’ atau ‘berkata’. Menurut Suriasumantri (1985), logika adalah pengkajian untuk berpikir secara sahih. Mundiri (2000) membatasi logika sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah (diambil dari definisi Irving M. Copi).

Mundiri (2000) mengemukakan bahwa yang pertama kali menggunakan kata logika adalah Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato tercatat sebagai tokoh-tokoh yang ikut merintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus, dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan secara progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada Abad II Hijriyah. Logika menjadi bagian yang menarik perhatian dalam perkembangan kebudayaan Islam. Namun, juga mendapat reaksi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, Ibnu Salah dan Imam Nawawi mengatakan haram mempelajari logika, Al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya.

Selanjutnya, logika mengalami masa dekadensi (kemunduran/kemerosotan) yang panjang. Logika menjadi sangat dangkal dan sederhana. Pada masa itu digunakan buku-buku logika seperti Isagoge dari Porphirius, Fonts Scientie dari John Damascenus, buku-buku komentar logika dari Bothius, dan sistematika logika dari Thomas Aquinas. Semua berangkat dan mengembangkan logika Aristoteles.

Pada abad XIII sampai dengan abad XV muncul Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lullus, dan Wilhelm Ocham menyusun logika yang sangat berbeda dengan logika Aristoteles yang kemudian dikenal sebagai logika modern. Raymundus Lullus mengembangkan metode Ars Magna, semacam aljabar dengan maksud membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi. Francis Bacon mengembangkan metode induktif dalam bukunya Novum Organum Scientiarum. W. Leibniz menyusun logika aljabar untuk menyederhanakan pekerjaan akal serta memberi kepastian. Emanuel Kant menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman.

Dari paparan di atas dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut.
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis tentang suatu objek tertentu. Suatu pengetahuan bisa disebut ilmu jika memiliki objek, memiliki metode, memiliki sistem, dan universal.

Logika merupakan patokan, hukum, atau rumus berpikir yang bertujuan menilai dan menyaring pemikiran dengan cara serius dan akademis untuk mendapatkan kebenaran.

Ilmu Logika adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk berpikir secara sahih: membedakan penalaran yang benar dan penalaran yang salah.

*Penulis: A. Effendi Sanusi


Referensi:
Mundiri. 2000. Logika. Jakarta: Rajawali Press bekerjasama dengan IAIN Walisongo.

Pusat Bahasa. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Poedjawijatna. 2004. Tahu dan Pengetahuan. Jakarta: Rineka Cipta.

Poespoprojo, W. 1999. Logika Ilmu Menalar. Jakarta: Pustaka Grafika.

Sudjarwo. 2008. ‘Filsafat Ilmu’. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Suriasumantri, Jujun S. 1985. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Implikasi Pergeseran Paradigma Pendidikan


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Pasal 1, UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas).

Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Dengan diberlakukannya UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terjadi pergeseran paradigma proses pendidikan: dari pengajaran menjadi pembelajaran. Semula, pengajaran merupakan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, aktivitas berpusat pada guru karena guru sebagai satu-satunya sumber belajar, dan didasari oleh teori belajar behaviorisme. Kini, pembelajaran tidak lagi berupa transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi merupakan transformasi pengetahuan. Dalam pembelajaran, aktivitas berpusat pada siswa. Siswalah yang aktif berinteraksi dengan guru dan aneka sumber belajar. Teori belajar yang mendasari kegiatan pembelajaran pun berubah: konstruktivisme.

Dalam teori behaviorisme, tujuan pembelajaran menekankan pada hasil (penambahan pengetahuan). Seseorang dikatakan telah belajar jika mampu mengungkapkan kembali hal yang telah dipelajari. Sebaliknya, dalam teori konstruktivisme, tujuan pembelajaran menekankan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata: menekankan pada proses.

Pergeseran paradigma dari teori belajar behaviorisme ke teori belajar konstruktivisme menuntut perubahan makna dalam pembelajaran. Pembelajaran tidak diartikan sebagai proses menyampaikan materi atau memberikan stimulus sebanyak-banyaknya kepada siswa, tetapi merupakan proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Sehubungan dengan itu, implikasinya adalah sebagai berikut:
1. Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar.
2. Belajar pada hakikatnya memiliki aspek sosial; beri pebelajar kesempatan untuk melakukan
kerja kelompok; perhitungkan proses dan hasil kerja kelompok.
3. Dorong pebelajar memainkan peran yang bervariasi dan munculnya pemikiran berbeda,
bukan hanya satu jawaban yang benar.
4. Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran/aktivitas.
5. Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari dan tekankan pada keterampilan
berpikir kritis.
6. Gunakan informasi pada situasi baru

* Penulis: A. Effendi Sanusi


Bahasa Lampung: Kedudukan, Fungsi, Dialek, dan Subdialek


Bahasa Lampung adalah salah satu bahasa daerah yang ada di Nusantara. Bahasa itu terdapat di Provinsi Lampung, merupakan bahasa yang masih hidup dan dipelihara oleh masyarakat penuturnya. Bahasa Lampung tidak mengenal tingkatan seperti yang terdapat dalam bahasa Jawa (tingkat ngoko, kromo, dst.). Namun, seperti halnya bahasa yang lain, bahasa Lampung memiliki ragam, seperti ragam resmi dan ragam tidak resmi. Dalam bahasa Lampung, hubungan antarpembicara terungkap dalam sistem tutur sapa, seperti nyak 'saya', ikam 'saya', nikeu/niku 'kamu', Puskam 'Anda', metei/kuti 'kalian', dan metei ghuppek/kuti ghumpok 'Anda semua'.

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Lampung berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah Lampung, (2) lambang identitas daerah Lampung, (3) alat komunikasi di dalam keluarga dan masyarakat Lampung, (4) sarana pendukung budaya Lampung dan budaya Indonesia, serta (5) pendukung sastra Lampung dan sastra Indonesia. Di dalam hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia, bahasa Lampung berfungsi sebagai (1) pendukung bahasa Indonesia dan (2) salah satu sumber kebahasaan untuk memperkaya bahasa Indonesia.

Bahasa Lampung terdiri atas dua dialek, yakni dialek O dan dialek A (Van der Tuuk membedakan atas dialek Abung dan dialek Pubian; Dr. J.W. Van Royen membedakan atas dialek Api dan dialek Nyou). Bahasa Lampung dialek O meliputi Abung dan Menggala. Bahasa Lampung dialek A meliputi Waikanan, Sungkai, Melinting, Pubian, Pesisir, dan Pemanggilan Jelema Daya. Dalam pembelajaran bahasa Lampung di sekolah, dialek O dan dialek A diajarkan secara berdampingan. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya masyarakat pendatang mempelajari bahasa Lampung.

Bahasa Lampung Abung digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di (1) sebagian Kota Bandar Lampung, (2) sebagian Kabupaten Lampung Selatan, (3) sebagian Kabupaten Lampung Tengah, (4) sebagian Kabupaten Lampung Utara, (5) sebagian Kabupaten Lampung Timur, dan (6) sebagian Kota Metro.

Bahasa Lampung Menggala (sering juga disebut bahasa Lampung Tulangbawang) digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulangbawang, sebagian Kabupaten Tulangbawang Barat, dan sebagian Kabupaten Mesuji. Bahasa Lampung Waikanan digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Waikanan. Bahasa Lampung Pesisir digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di (1) Kota Bandar Lampung bagian selatan, (2) sebagian Kabupaten Lampung Selatan, (3) Kabupaten Lampung Barat, (4) sebagian Kabupaten Tanggamus, (5) sebagian Kabupaten Pesawaran, dan (6) sebagian Kabupaten Pringsewu. Selain itu, bahasa Lampung Pesisir juga digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di sekitar Danau Ranau (Provinsi Sumatra Selatan) serta di Cikoneng, Bojong, Salatuhur, dan Tegal (Banten).

Bahasa Lampung Melinting digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di sebagian Kabupaten Lampung Timur. Bahasa Lampung Pubian digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di (1) sebagian Kota Bandar Lampung, (2) sebagian Kabupaten Lampung Selatan, (3) sebagian Kabupaten Lampung Tengah, (4) sebagian Kabupaten Tanggamus, (5) sebagian Kabupaten Pesawaran, dan (6) sebagian Kabupaten Pringsewu. Bahasa Lampung Sungkai digunakan oleh etnik Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Utara, meliputi Kecamatan Sungkai Selatan (Ketapang) dan Sungkai Utara (Negararatu) beserta pemekaran kedua kecamatan tersebut. Bahasa Lampung Pemanggilan Jelema Daya digunakan oleh etnik Lampung yang berada di Muaradua, Martapura, Komring Ilir, dan Kayuagung (Provinsi Sumatra Selatan).

* Sumber: A. Effendi Sanusi


Referensi:
Sanusi, A. Effendi et al. 1996. "Kata Kerja Bahasa Lampung Dialek Pubian". Jakarta: Laporan Penelitian Pusat Bahasa.

Sanusi, A. Effendi et al. 1997. Kata Tugas Bahasa Lampung Dialek Abung. Jakarta: Pusat Bahasa.

Sanusi, A. Effendi et al. 1998. "Tata Bahasa Lampung Dialek Abung". Jakarta: Laporan Penelitian Pusat Bahasa.

Sanusi, A. Effendi et al. 1998. Nomina dan Adjektiva Bahasa Lampung Dialek Abung. Jakarta: Pusat Bahasa.

Sanusi, A. Effendi et al. 2000. "Tata Bahasa Lampung Dialek A Pubian". Jakarta: Laporan Penelitian Pusat Bahasa.

Sanusi, A. Effendi. 2000. "Fonologi Bahasa Lampung". Bandar Lampung: Buku Ajar FKIP Universitas Lampung.

Sanusi, A. Effendi. 2003. "Morfologi Bahasa Lampung". Bandar Lampung: Buku Ajar FKIP Universitas Lampung.

Sanusi, A. Effendi. 2006. "Tata-Bahasa Bahasa Lampung". Bandar Lampung: Buku Ajar FKIP Universitas Lampung.


16 Agustus 2009

Puisi Lampung: Pepaccur


Pepaccur adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung berbentuk puisi yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan atau nasihat dalam upacara pemberian gelar adat. Istilah pepaccur dikenal di lingkungan masyarakat Lampung dialek O. Di lingkungan masyarakat Lampung dialek A dikenal dengan istilah pepaccogh (di lingkungan masyarakat Lampung dialek A Sebatin dikenal dengan istilah wawancan).

Sudah menjadi adat masyarakat Lampung bahwa pada saat bujang atau gadis meninggalkan masa remajanya atau pada saat mereka memasuki kehidupan berumah tangga, pasangan pengantin itu diberi gelar adat sebagai penghormatan dan tanda bahwa mereka sudah berumah tangga. Gelar adat ini diterima dari klan bapak dan dari klan ibu, dilakukan di tempat mempelai pria maupun di tempat mempelai wanita. Pemberian gelar dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah ngamai adek/ngamai adok (jika dilakukan di tempat mempelai wanita), nandekken adek dan inai adek/nandokkon adok ghik ini adok (jika dilakukan di tempat mempelai pria), dan butetah/kebaghan adok/nguwaghkon adok (istilah di lingkungan masyarakat Lampung Sebatin). Setelah gelar diberikan, si penerima gelar diberi nasihat atau pesan-pesan. Nasihat atau pesan-pesan itu disampaikan dalam bentuk puisi yang dikenal dengan istilah pepaccur.

Penyampaian pepaccur memerlukan kemampuan khusus karena di dalamnya terkandung unsur seni. Pepaccur disampaikan dengan cara berdendang atau berlagu dengan irama yang harus dapat memikat perhatian pendengar (hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa masyarakat tradisional Lampung adalah pencinta seni).

Pepaccur terdiri atas sejumlah bait dan setiap bait terdiri atas empat atau enam baris. Jumlah bait pepaccur tidak ada ketentuan yang mutlak. Jumlah bait itu bergantung pada sedikit atau banyaknya pesan yang disampaikan.

Jika dilihat dari struktur globalnya, pepaccur dapat digolongkan ke dalam puisi tradisional berbentuk syair. Pepaccur tidak mempunyai sampiran, semua baris dalam setiap bait mengandung isi (ini yang membedakannya dengan pattun). Pola sajak akhir (rima) pepaccur tidak tetap. Ada yang berpola ab/ab dan ada pula yang berpola abc/abc .

Pepaccur berfungsi sebagai media penyampaian pesan atau nasihat untuk kedua mempelai dalam upacara pesta pernikahan dan sebagai media untuk melestarikan bahasa dan sastra Lampung. Secara umum, pesan atau nasihat itu berkenaan dengan kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama.

Di bawah ini dikemukakan dua contoh pepaccur (dalam bahasa Lampung dialek O).


Contoh 1
Adek dan Inai Adek anjak Batangan
Adek sai ragah: Jaya Umpuan Mega
Adek sai sebai :
inaino inai rateu, adekno Ratu Mahkota

PEPACCUR
Syukur alhamdulillah
tigeh judeumeu tano
dendeng segalo badan
Kekalau metei wo tuah
ino sai upo duo
kiluian adek Tuhan

Sijo ngemik amanah
tetujeu di metei wo
anjak kaban kemaman
Cubo dipilah-pilah
ki bakal ngemik guno
akuk jadei anggeuan

Pertamo, beibadah
sembahyang wakteu limo
dang sappai ketinggalan
Kirim munih fatihah
tehadep sai kak meno
kipak sai lagei tengan

Suwo pungeu tengadah
kilui appun duso
serto selamat badan
Najin mak dapek kiwah
cukuplah sederhano
asal mak kekurangan

Baso caluk gham lapah
dageu dang ghaccak bigo
mato ninuk lakkahan
Nyo sai dibo pindah
anjak alam dunio
selain kain kafan

Hubungan gham di luwah
ino perleu dibino
perleu sakai sambayan
Najin kak sumang darah
pagun jugo beguno
tetangga kirei kanan

Tumbuk ulun sai susah
tesambat suwo mahho
unjak ki lagei badan
Pudak selaleu wewah
tehadep sapo jugo
betikkah lakeu sai supan

Adik wagheimeu nayah
sai di nei atau sai di jo
unyen perleu bimbingan
Jadei anak tuho mak mudah
io mustei bijaksano
di lem segalo tindakan

Basing upo masalah
perleu berecako
jamo kaban wewagheian
Najin sepuluh mudah
sebelas gham betanyo
mangi mak salah jalan

Sijo akhir petuah
ingekken dang lupo
akuk jadei anggeuan
Nyo maknono kidah
seghem matei di gulo
pahemken metei sayan

* Sumber: A. Effendi Sanusi


Terjemah Bebas:

Contoh 1
Gelar dari orang tua mempelai
Gelar yang pria : Jaya Umpuan Mega
Gelar yang wanita:
pangkatnya pangkat ratu, gelarnya Ratu Mahkota

PEPACCUR
Syukur alhamdulillah
sekarang jodohmu sampai
hadir segenap famili
Semoga kalian bernasib baik
itulah doa kami
kepada Tuhan Yang Mahakuasa

Ini ada beberapa pesan
ditujukan pada kalian berdua
dari para paman
Cobalah dipilah-pilah
andaikan ada gunanya
ambil dan jadikan pegangan (hidup)

Pertama, beribadah
sembahyang lima waktu
jangan sampai ditinggalkan
Kirim pula fatihah
untuk yang telah meninggal
maupun yang masih hidup

Sambil tangan tengadah
mohon ampun dosa
serta mohon keselamatan
Meskipun (hidup) tidak bisa mewah
cukuplah sederhana
asalkan tidak kekurangan

Pada saat kita melangkah
dagu janganlah terlampau tinggi
mata melihat ke bawah
Apa yang dibawa pindah
dari alam dunia
selain kain kafan

Hubungan dengan orang luar
perlu dibina
perlu tolong-menolong
Meskipun bukan famili
masih juga ada gunanya
tetangga kiri kanan

Berjumpa dengan orang takpunya
sapalah dengan baik
apatah lagi jika masih famili
Muka hendaklah selalu cerah
terhadap siapa pun
bertingkah lakulah yang sopan

Adik-adikmu banyak
dari pihak kamu maupun pihak istri
semuanya memerlukan bimbingan
Jadi anak sulung tidaklah mudah
ia harus bijaksana
di dalam segala tindakan

Apa pun masalah yang dihadapi
perlu terbuka dan bermusyawarah
dengan adik beradik
Meskipun (kita) sudah tahu
tidak ada salahnya bertanya
agar tidak salah langkah

Ini akhir petuah
ingat jangan dilupakan
ambil jadikan pegangan
Apakah maknanya
semut mati karena gula
tafsirkan oleh kalian

*

Contoh 2
Adek dan Inai Adek anjak Batangan
Adek sai ragah: Rajo Mergo
Adek sai sebai :
inaino inai rateu, adekno Ratu Mestika

PEPACCUR
Tano tigeh judeumeu
memugo metei wo rawan
tigeh alam salah nei
Tuah nyepik di kukeu
ules ninding di badan
rezekei tawit milei

Kelamo tutuk lebeu
kemaman serto keminan
penano munih kaban waghei
Unyen ngejungken pungeu
bemuhun adek Tuhan
kekalau metei wo abadei

Sijo panggeh datukmeu
matinaris ketinggalan
panggeh datukmeu Sanusi
Sembahyang limo watteu
puaso bulan Ramadhan
dang sappai dilalaiken metei

Agamo dang sappai lalai
lakunei perittah Tuhan
jawehei sai mak beguno
Adat munih tepakai
mufakat, sakai sambayan
nengah nyimah dang lupo

Lakeu lagei meghanai
mak dapek jadei anggeuan
bareng kak gilir tuho
Ghedik sekelik mustei pandai
tehadep segalo badan
wawaiken budei bahaso

Pandai-pandai memalah
patuh di waghei tuho
uyang najin keminan
Basing upo perittah
dang cawo mak kuwawo
ino pebalahan pattangan

Tehadep kemaman dan keminan
wawaiken puppik penyawo
dang nganggeu masabudeu
Baso wat kelapangan
lapah subuk metei wo
dang nginan watteu perleu

Sesikun ulun ghebei
lagei lak ketinggalan
tigeh di zaman tano
Anggeulah ilmeu paghei
semungguk wat isseian
cemungak tando hapo

* Sumber: A. Effendi Sanusi


Terjemah Bebas:

Contoh 2
Gelar dari orang tua mempelai
Gelar yang pria : Rajo Mergo
Gelar yang wanita:
pangkatnya pangkat ratu, gelarnya Ratu Mestika

PEPACCUR
Sekarang jodohmu sampai
semoga kalian bernasib baik
hingga alam akhirat
Tuah menyelinap di kuku
kebahagiaan selalu menyertai
rezeki senantiasa mengalir

Kerabat ibu, kakek, dan nenek
paman beserta bibi
begitu pula segenap famili
Mereka menengadahkan tangan
memohon kepada Tuhan
semoga jodoh kalian abadi

Ini ada pesan kakekmu
nyaris terlupakan
pesan kakekmu Sanusi
Sembahyang lima waktu
puasa pada bulan Ramadhan
jangan sampai kalian lalaikan

Agama jangan sampai dilalaikan
kerjakanlah perintah Tuhan
jauhi yang tiada bermanfaat
Adat perlu dijunjung
mufakat, tolong-menolong
bermasyarakat dan jangan kikir

Kelakuan (jelek) ketika bujang
hendaklah ditinggalkan
saat telah beranjak dewasa
Sanak famili harus diketahui
terhadap siapa pun
berbudi bahasalah yang baik

Pandai-pandailah mengalah
patuh pada kakak yang sulung
istri kakak maupun bibi
Apa pun yang diperintah
jangan mengatakan malas
itu perkataan pemali

Terhadap paman dan bibi
bertutur sapalah yang baik
janganlah tidak ada perhatian
Pada saat luang
berkunjunglah kalian berdua
jangan datang hanya saat perlu

Peribahasa para leluhur
masih belum ketinggalan
hingga zaman sekarang
Pakailah ilmu padi
menunduk tanda berisi
tegak tandanya hampa

*

Puisi Lampung: Paradinei


Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik terdiri atas diksi, pengimajian, kata konkret, majas, versifikasi (rima, ritma, dan metrum), dan tipografi puisi. Struktur batin terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Kedua struktur itu terjalin dan terkombinasi secara utuh yang membentuk dan memungkinkan sebuah puisi memantulkan makna, keindahan, dan imajinasi bagi penikmatnya. Dibandingkan dengan bentuk karya sastra yang lain, bahasa puisi lebih bersifat konotatif. Bahasanya lebih banyak memiliki kemungkinan makna.

Berdasarkan fungsinya, puisi Lampung dapat dibedakan atas lima jenis:
1. paradinei/paghadini/tetangguh
2. pepaccur/pepaccogh/wawancan
3. pattun/segata/adi-adi
4. bebandung
5. ringget/pisaan/highing-highing/wayak/ngehahaddo/hahi-wang

Istilah paradinei dikenal di lingkungan masyarakat Lampung dialek O. Di lingkungan masyarakat Lampung dialek A dikenal dengan istilah paghadini (di lingkungan masyarakat Lampung dialek A Sebatin dikenal dengan istilah tetangguh). Puisi jenis ini digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat.

Pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat, sebelum rombongan tamu (yang terdiri atas arak-arakan) menginjakkan kaki di kediaman tuan rumah, mereka dihadang oleh pihak tuan rumah (yang terdiri atas arak-arakan pula). Acara penghadangan itu dikenal dengan istilah nebak appeng (dialek O) atau nebak appong (dialek A) yang bermakna 'menutup gapura'. Dalam acara penghadangan itu digunakanlah sastra lisan jenis paradinei sebagai media untuk berkomunikasi.

Paradinei terdiri atas sejumlah bait yang bersajak. Akan tetapi, jumlah baris pada setiap bait tidak harus sama. Jumlah baris pada setiap bait paradinei sama dengan jumlah baris suatu paragraf pada karangan berbentuk prosa (yang tidak harus sama). Perbedaannya, kalimat dalam paradinei terikat dua-dua (seperti ikatan kalimat dalam pantun), sedangkan dalam karangan berbentuk prosa tidak demikian.

Paradinei diucapkan oleh jurubicara masing-masing pihak, baik pihak tamu maupun pihak tuan rumah. Di kiri kanan jurubicara terdapat dua orang laki-laki berpakaian adat yang dikenal dengan istilah huleubalang 'hulubalang'. Secara umum, isi paradinei berupa tanya jawab tentang maksud dan tujuan kedatangan (tamu).
Upacara nebak appeng/nebak appong 'menutup gapura' ini mencerminkan bahwa masyarakat Lampung dalam bertindak (terutama yang berpengaruh terhadap orang banyak) tidak gegabah. Sebelum bertindak, perlu didengarkan dulu keterangan dari pihak yang bersangkutan.

Paradinei berfungsi sebagai media:
1. tanya jawab pada saat berlangsungnya upacara penyambutan tamu secara adat
2. untuk melestarikan bahasa dan sastra Lampung
3. untuk mendidik masyarakat Lampung agar menghargai sastra daerah. Di bawah ini dikemukakan contoh paradinei yang lazim digunakan dalam acara nebak appeng 'menutup gapura'.

PARADINEI
(dalam bahasa Lampung dialek O)

A. Ucapan jurubicara pihak tuan rumah
Penano cawono pun tabik ngalimpuro
Sikam 'jo keno kayun tian sai tuho rajo
Ki cawo salah susun maklum kurang biaso

Sikam nuppang betanyo jamo metei sangoiringan
Metei jo anjak kedo nyo maksud dan tujuan
Mak dapek lajeu di jo ki mak jelas lapahan

Sapo sai liyeu di jo mak dapek sembarangan
Tuho atau mudo mustei nutuk aturan
Adat perattei 'jak sako ghadeu pepigho zaman

Ijo appeng mergo tigeh di lawangkurei
Dijago balo-balo gagah serto banei
Sangun prajurit sako gagah serto sattei

Huleubalang sai sang kanan:
Pengiran Panglimo gagah serto sattei
Ngunut lawan mak masso di seluruh penjureu bumei
Lamun mak wawai caro nulei metei mak balik lagei

Huleubalang sai sang kirei:
Dalem Priyayei juragan balak nasseu
Temen mak dikan besei, anying di sebai io talleu
Banei lamun debingei dawah io kimbang tileu

Appeng epak limo tako bedameino mak tunai
Tetek pai appeng ijo appai gham beselesai
Penano pai pun bunyei tangguh sikam
tehadep metei ghuppek sangoiringan


B. Jawaban jurubicara pihak tamu
Ya, pun, ya jugo pun, Puskam ....
Gemuttur basso sako
Gajah delem epak sumbai
Io meno tanjak migo
Mak nibai bidang buai
Nambek Puskam pun ...

Penano cawono pun
Sikam sangoiringan anjak anek Labuhanratu
Lapah bidang penyimbang lajeu di bidang sukeu
Lapahan rajo-rajo, meghanai, sebai, mulei
Ago wat sai direcako nutuk titei gemattei
Jeng lapah tuho mudo dihappak kaban kiayei

Temunjang anjak sessat berakkat sanak tuho
Ago hippun mufakat tehadep puaghei di jo
Ki dapek di lem sessat mangi tijjang recako

Ingek budei bahaso, piil serto pesenggirei
Gham pakai jamo-jamo mangi mak selisih atei
Akik jamo Belando lagei dapek bedamei

Ulah pasal appeng mergo tigeh di lawang kurei
Sikam kak sedio uno jahkidah sambuk metei
Sangun kak lakkah caro perattei anjak ghebei

Penanolah sehajo mangi metei ghuppek pandai
Mahap pun ngalimpuro katteu ngemik sai lalai
Sai tatteuno bahaso sikam jo kurang pandai

C. Jawaban jurubicara pihak tuan rumah
Lamun penanokidah gham mak dapek selisih
Ki penano kisah sikam ngucapken terimo kasih

Pasal dau belanjo sikam kak nerimo
Ino appeng mergo mak metei mubo di io
Sangun kak lakkah caro anjak zaman sai tuho

D. Jawaban jurubicara pihak tamu
Ya pun, ya jugo pun Puskam ....
Sikam permisei netek appeng ijo:
Betuah nikeu punduk netek appeng mergo
lajeu di appeng tiuh
Benahan setakko ngejuk, asal meso ghanglayo,
gham memalah mangi mak rusuh

Terjemah Bebas

PARADINEI

A. Ucapan jurubicara pihak tuan rumah
Pertama-tama, kami memohon maaf
Kami mendapat perintah dari para sesepuh
Jika ada kata yang salah mohon dimaklumi

Kami numpang bertanya pada kalian serombongan
Kalian dari mana, apakah maksud dan tujuan
Tidak boleh lewat di sini jika tidak jelas tujuannya

Siapa pun yang lewat di sini tidak bisa sembarangan
Tua atau muda musti mengikuti aturan
Adat-istiadat sejak dahulu, telah beberapa zaman

Ini batas marga hingga gapura rumah
Dijaga hulubalang gagah serta berani
Perajurit terlatih turunan orang sakti

Hulubalang yang di kanan:
Pengiran Panglimo gagah serta sakti
Mencari lawan tidak dapat di seluruh penjuru bumi
Jika bermaksud tidak baik pasti kalian binasa

Hulubalang yang di kiri:
Dalem Priyayi juragan besar napsu
Ia orang kebal, tetapi pada perempuan ia takluk
Berani kalau malam (jika) siang ia pura-pura tuli

Pagar berlapis-lapis untuk berdamai tidaklah mudah
Potonglah dulu pembatas ini baru kita musyawarah
Hingga ini dulu kata sambutan kami
Terhadap kalian serombongan

B. Jawaban jurubicara pihak tamu
Ya, Anda ....
Gemuttur basso sako
Gajah delem epak sumbai
Io meno tanjak migo
Mak nibai bidang buai
Berhadapan dengan Anda ....

Kami serombongan dari kampung Labuhanratu
Terdiri dari para pimpinan klan dan warga adat
Para bapak, ibu, bujang, dan gadis
Ada yang akan dibicarakan menurut adat istiadat kita
Itulah sebabnya kami datang ke sini disertai para kiayi

Berangkat dari balai adat, berangkat tua muda
Ada yang akan dimusyawarahkan dengan kerabat di sini
Andaikan diizinkan, (kita bicara) di balai adat

Ingat budi bahasa dan Piil Pesenggiri (palsafah etnik Lampung)
Kita anut bersama agar tidak selisih
Sedangkan dengan Belanda, (kita) masih bisa berdamai

Mengenai batas marga hingga (batas) gapura rumah
Kami telah menyiapkan uang adat, ini kami serahkan
Memang telah tata cara kebiasaan sejak dahulu

Begitulah maksud kedatangan kami agar kalian maklum
Kami memohon maaf andaikan ada kekhilafan
Terutama, masalah tutur sapa kami kurang menguasai

C. Jawaban jurubicara pihak tuan rumah
Jika demikian, kita tidak bisa selisih
Jika begitu maksud kalian, kami ucapkan terima kasih
Mengenai uang adat dapat kami terima
Itu batas marga tidaklah asing bagi kalian
Memang sudah tata cara sejak zaman para leluhur

D. Jawaban jurubicara pihak tamu
Ya, Anda ....
Kami permisi memotong pembatas ini (simbol berupa kain putih):
Bertuah kamu keris memotong batas marga hingga gapura rumah
Karena mampu maka kita bisa memberi
Biarlah kita mengalah asalkan tujuan tercapai

* Sumber: A. Effendi Sanusi


Referensi:
Sanusi, A. Effendi. 1996. Sastra Lisan Lampung Dialek Abung. Bandar Lampung: Gunung Pesagi.

Sanusi, A. Effendi et al. 1996. Struktur Puisi Lampung Dialek Abung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sanusi, A. Effendi. 1999. Sastra Lisan Lampung. Bandar Lampung: Buku Ajar FKIP Unila.

Sastra Lisan Lampung: Jenis, Fungsi, dan Penyebaran


Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, atau keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan bahasa sebagai medianya.

Sastra lisan Lampung adalah sastra berbahasa Lampung yang hidup secara lisan, yang tersebar dalam bentuk tidak tertulis (kini sudah diinventarisasi dan sudah banyak yang ditulis). Sastra lisan Lampung merupakan milik kolektif etnik Lampung dan bersifat anonim. Sastra itu banyak tersebar di masyarakat, merupakan bagian yang sangat penting dari kekayaan budaya etnik Lampung dan juga merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

Sastra lisan Lampung dapat dibedakan menjadi lima jenis:
1. peribahasa
2. teka-teki
3. mantra
4. puisi
5. cerita rakyat

Secara umum, sastra lisan dalam kehidupan etnik Lampung memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. pengungkap alam pikiran, sikap, dan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Lampung
2. penyampai gagasan-gagasan yang mendukung pembangunan manusia seutuhnya
3. pendorong untuk memahami, mencintai, dan membina kehidupan dengan baik
4. pemupuk persatuan dan saling pengertian antarsesama
5. penunjang pengembangan bahasa dan kebudayaan Lampung
6. penunjang perkembangan bahasa dan sastra Indonesia

Pada zaman dahulu, sastra lisan Lampung disebarkan dari mulut ke kuping (bukan dari mulut ke mulut) pada suasana atau kegiatan berikut ini:
1. pada saat bersantai
2. pada saat mengerjakan kerajinan tangan, seperti menenun tapis, menyulam, atau membuat anyam-anyaman
3. pada saat beramai-ramai bekerja di kebun atau di sawah, seperti ketika membuka ladang atau menanam/menuai padi
4. pada saat upacara penyambutan tamu secara adat
5. pada saat upacara pemberian jejuluk (jejuluk adalah gelar sebelum menikah, diberikan bersamaan dengan pemberian nama) atau pemberian adek/adok (gelar adat)
6. pada saat berlangsungnya acara muda-mudi
7. ketika berlangsungnya acara cangget ’tarian adat’
8. ketika berlangsungnya acara bebekas ’penglepasan mempelai’

Pada saat ini, sastra lisan Lampung sudah mulai disebarkan melalui media massa, seperti radio, televisi, atau surat kabar daerah. Di sebagian besar sekolah jenjang pendidikan dasar yang ada di Provinsi Lampung telah diajarkan bahasa dan sastra Lampung untuk mengisi muatan lokal. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung, program S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menjadikan bahasa dan sastra Lampung sebagai mata kuliah wajib. Begitu pula halnya di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Bandar Lampung, Program S-1 Bahasa dan Sastra Indonesia menjadikan bahasa dan budaya Lampung menjadi mata kuliah wajib. Jadi, penyebaran sastra lisan Lampung pada saat ini telah dilakukan secara sengaja dan berencana.

* Sumber: A. Effendi Sanusi


Referensi:
Sanusi, A. Effendi. 1996. Sastra Lisan Lampung Dialek Abung. Bandar Lampung: Gunung Pesagi.

Sanusi, A. Effendi et al. 1996. Struktur Puisi Lampung Dialek Abung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sanusi, A. Effendi. 1999. Sastra Lisan Lampung. Bandar Lampung: Buku Ajar FKIP Unila.









15 Agustus 2009

Model Pembelajaran Inovatif


Model pembelajaran sangat berperan dalam memandu proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang efektif adalah model yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dan dapat mencapai tujuan belajar yang diharapkan.

Joyce & Weil (1980) mengemukakan model pembelajaran memiliki lima unsur dasar:
1. syntax: langkah-langkah operasional pembelajaran
2. social system: suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran
3. principles of reaction: menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa
4. support system: segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran
5. instructional and nurturant effects: hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan
utama (instructional effects) dan hasil belajar di luar tujuan utama (nurturant effects).

Secara filosofis, tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa dalam menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran belajar sehingga mampu melakukan olah pikir, rasa, dan raga dalam memecahkan masalah kehidupan di dunia nyata. Model pembelajaran yang dapat mengakomodasi tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif.

Model pembelajaran yang berlandaskan paradigma konstruktivistik sangat banyak. Di bawah ini dikemukakan beberapa di antaranya, yakni model reasoning and problem solving, model group investigation, model inquiry training, dan model problem-based instruction.

A. Model Reasoning and Problem Solving
Di era globalisasi ini, isu tentang perubahan paradigma pendidikan gencar didengungkan, baik yang menyangkut content maupun pedagogy, seperti kurikulum, pembelajaran, dan asesmen yang komprehensif. Dalam bidang pembelajaran, perubahan tersebut merekomendasikan model reasoning and problem solving sebagai alternatif pembelajaran yang konstruktif.

Kemampuan reasoning and problem solving merupakan kemampuan yang harus dimiliki siswa untuk bekal mereka memasuki dan melakukan aktivitas di tengah masyarakat.

Reasoning merupakan tingkat berpikir yang berada di atas level memanggil (retensi), yang meliputi basic thinking, critical thinking, dan creative thinking. Basic thinking adalah kemampuan memahami konsep. Critical thinking meliputi kemampuan menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi aspek-aspek yang fokus pada masalah, mengumpulkan dan mengorganisasi informasi, memvalidasi dan menganalisis informasi, mengingat dan mengasosiasikan informasi yang dipelajari sebelumnya, menentukan jawaban yang rasional, melukiskan kesimpulan yang valid, dan melakukan analisis dan refleksi. Creative thinking meliputi kemampuan menghasilkan produk orisinil, efektif, dan kompleks, inventif, pensintesis, pembangkit, dan penerap ide.

Krulik & Rudnick (1996) mengemukakan problem solving adalah upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang telah dimiliki dalam rangka memenuhi tuntutan situasi dan kondisi. Jadi, aktivitas problem solving diawali dengan konfrontasi dan berakhir jika sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah.

Model reasoning and problem solving dalam pembelajaran memiliki lima langkah: (1) membaca dan berpikir: mengidentifikasi fakta dan masalah, memvisualisasikan situasi, mendeskripsikan seting pemecahan, (2) mengeksplorasi dan merencanakan: pengorganisasian informasi, melukiskan diagram pemecahan, membuat tabel, grafik, atau gambar, (3) menyeleksi strategi: menetapkan pola, menguji pola, simulasi atau eksperimen, reduksi atau ekspansi, deduksi logis, menulis persamaan, (4) menemukan jawaban: mengestimasi, menggunakan keterampilan komputasi, aljabar, dan geometri, (5) refleksi dan perluasan: mengoreksi jawaban, menemukan alternatif pemecahan lain, memperluas konsep dan generalisasi, mendiskusikan pemecahan, memformulasikan masalah-masalah variatif yang orisinil (Krulik & Rudnick, 1996).

Dalam model ini, guru lebih berperan sebagai konselor, konsultan, sumber yang konstruktif, fasilitator, dan pemikir tingkat tinggi. Peran tersebut ditampilkan utamanya dalam proses siswa melakukan aktivitas pemecahan masalah. Materi yang diperlukan berupa materi yang dapat membangkitkan proses berpikir dasar, kritis, kreatif, dan berpikir tingkat tinggi.

Pembelajaran model ini berdampak positif bagi siswa. Dengan menerapkan pembelajaran model reasoning and problem solving, siswa akan memperoleh pemahaman, keterampilan berpikir kritis dan kreatif, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan menggunakan pengetahuan secara bermakna.


B. Model Group Investigation
Model pembelajaran group investigation berawal dari perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, orang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey menulis sebuah buku Democracy and Education (Arends, 1998). Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.

Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob et al, 1996) adalah: (1) siswa hendaknya aktif: learning by doing; (2) belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik; (3) pengetahuan berkembang, tidak bersifat tetap; (4) kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa; (5) pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain: prosedur demokratis sangat penting; (6) kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata.

Gagasan Dewey akhirnya diwujudkan dalam model group investigation yang kemudian dikembangkan oleh Herbert Thelen. Thelen menyatakan bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial antarpribadi (Arends, 1998).

Slavin (1995) mengatakan pembelajaran model group investigation memiliki enam langkah: (1) grouping: menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan, (2) planning: menetapkan hal yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, dan apa tujuannya, (3) investigation: saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat inferensi), (4) organizing: anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis, (5) presenting: salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan, dan (6) evaluating: masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, dan melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.

Dalam pembelajaran model ini, prinsip yang dikembangkan adalah guru lebih berperan sebagai konselor, konsultan, dan sumber kritik yang konstruktif. Peran tersebut ditampilkan dalam proses pemecahan masalah, pengelolaan kelas, dan pemaknaan perseorangan. Peranan guru terkait dengan proses pemecahan masalah berkenaan dengan kemampuan meneliti hakikat dan fokus masalah. Pengelolaan ditampilkan berkenaan dengan kiat menentukan informasi yang diperlukan dan pengorganisasian kelompok untuk memperoleh informasi tersebut.

Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, peralatan penelitian yang sesuai, meja dan kursi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu.


C. Model Inquiry Training
Dalam model inquiry training terdapat tiga prinsip: pengetahuan bersifat tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivualitas secara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga (kemandirian) akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah.

Joyce & Weil (1980) mengemukakan pembelajaran model inquiry training memiliki lima langkah pokok:
1. menghadapkan masalah: menjelaskan prosedur penelitian, menyajikan situasi yang saling bertentangan
2. menemukan masalah: memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi, memeriksa tampilnya masalah
3. mengkaji data dan eksperimentasi: mengisolasi variabel yang sesuai, merumuskan hipotesis
4. mengorganisasikan, merumuskan, dan menjelaskan
5. menganalisis proses penelitian untuk memperoleh prosedur yang lebih efektif

Prinsip-prinsip yang dikembangkan adalah pengajuan pertanyaan yang jelas dan lugas, menyediakan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki pertanyaan, menunjukkan butir-butir yang kurang sahih, menyediakan bimbingan tentang teori yang digunakan, menyediakan suasana kebebasan intelektual, menyediakan dorongan dan dukungan atas interaksi, hasil eksplorasi, formulasi, dan generalisasi siswa.

Penerapan pembelajaran model ini memerlukan materi yang mampu membangkitkan proses intelektual dan yang menantang siswa untuk melakukan penelitian.


D. Model Problem-Based Instruction
Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik (Arends et al, 2001). Dalam pemerolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik, siswa belajar bagaimana mengonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.

Pembelajaran model problem based instruction memiliki lima langkah: (1) guru mendefinisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yang berkaitan (masalah bisa untuk satu unit pelajaran atau lebih, bisa untuk pertemuan satu, dua, atau tiga minggu, bisa berasal dari hasil seleksi guru atau dari eksplorasi siswa), (2) guru membantu siswa mengklarifikasi masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi melibatkan sumber-sumber belajar, informasi, dan data yang variatif, melakukan survai dan pengukuran), (3) guru membantu siswa menciptakan makna terkait dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan masalah dan apa rasionalnya), (4) pengorganisasian laporan (makalah, laporan lisan, model, program komputer, dan lain-lain), dan (5) presentasi dalam kelas: melibatkan semua siswa, guru, bila perlu melibatkan administator dan anggota masyarakat (Arend et al, 2001).

Prinsip yang dapat dikembangkan adalah peranan guru sebagai pembimbing dan negosiator. Peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan selama proses pendefinisian dan pengklarifikasian masalah.

Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, artikel, jurnal, kliping, peralatan demonstrasi atau eksperimen yang sesuai, model analogi, meja dan kursi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu.

Dampak pembelajaran adalah pemahaman tentang kaitan pengetahuan dengan dunia nyata dan bagaimana menggunakan pengetahuan dalam pemecahan masalah kompleks. Dampak pengiringnya adalah mempercepat pengembangan self-regulated learning, menciptakan lingkungan kelas yang demokratis dan efektif dalam mengatasi keragaman siswa.

*Penulis: A. Effendi Sanusi


Referensi:
Arends, R.I. 1998. Learning to Teach. Singapore: Mc Graw-Hill Book Company.

Arends, R.I. et al. 2001. Exploring Teaching: An Introduction to Education. New York: McGraw-Hill Companies.

Joyce, B. & Weil M. 1980. Model of Teaching. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Jacobs, G.M, Lee G.S, & Ball J. 1996. Learning Cooperative Learning via Cooperative Learning: A Sourcebook of Lesson Plans for Teacher Education on Cooperative Learning. Singapore: SEAMEO Regional Language Center.

Krulik, S. & Rudnick J. A. 1996. The New Sourcebook for Teacing Reasoning and Problem Solving in Junior and Senior High School. Boston: Allyn and Bacon.

Slavin, R. E. 1995. Cooperative Learning: second edition. Boston: Allyn and Bacon.

Inovasi: Pengertian dan Karakteristik

Oleh: A. Effendi Sanusi


A. Pengertian Inovasi
Menurut etimologi, inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna ‘pembaharuan; perubahan (secara) baru’. Inovasi adakalanya diartikan sebagai penemuan, tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri atau invensi. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu yang sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui orang; contohnya penemuan benua Amerika. Sebenarnya, benua Amerika sudah ada sejak dahulu, tetapi baru ditemukan pada tahun 1492 oleh orang Eropa yang bernama Columbus. Invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia; contohnya teori belajar, mode busana, dan sebagainya. Inovasi adalah suatu ide, produk, metode, dan seterusnya yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru, baik berupa hasil diskoveri atau invensi yang digunakan untuk tujuan tertentu.

Rogers dan Shoemaker mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru, praktik-praktik baru, atau objek-objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran. Pengertian baru di sini, mengandung makna bukan sekadar baru diketahui oleh pikiran (cognitive), melainkan juga baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat dalam arti sikap (attitude) dan juga baru dalam pengertian belum diterima dan diterapkan oleh seluruh warga masyarakat setempat.

Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Jadi, secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.

Fullan mengemukakan bahwa tahun 1960-an adalah era banyak inovasi pendidikan kontemporer diadopsi, seperti matematika, kimia, fisika baru, mesin belajar (teaching machine), pendidikan terbuka, pembelajaran individu, pengajaran secara tim (team teaching), termasuk sistem belajar mandiri.

B. Karakteristik Inovasi
Rogers (1983) mengemukakan lima karakteristik inovasi:
1. keunggulan relatif (relative advantage)
2. kompatibilitas (compatibility)
3. kerumitan (complexity)
4. kemampuan diujicobakan (trialability)
5. kemampuan untuk diamati (observability)

Keunggulan relatif adalah derajat di mana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul daripada yang pernah ada. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi ekonomi, prestise sosial, kenyamanan, dan kepuasan. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.

Kompatibilitas adalah derajat di mana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).

Kerumitan adalah derajat di mana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.

Kemampuan untuk diujicobakan adalah derajat di mana suatu inovasi dapat diuji coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat diujicobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi harus mampu mengemukakan keunggulannya.

Kemampuan untuk diamati adalah derajat di mana hasil suatu inovasi dapat dilihat orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi.

Semakin besar keunggulan relatif, kesesuaian, kemampuan untuk diujicobakan, dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, semakin cepat inovasi dapat diadopsi.

Rogers (1983) mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi:
1. struktur sosial (social structure)
2. norma sistem (system norms)
3. pemimpin opini (opinion leaders)
4. agen peubah (change agent)

Struktur sosial adalah susunan suatu unit sistem yang memiliki pola tertentu. Struktur ini memberikan keteraturan dan stabilitas perilaku setiap individu (unit) dalam suatu sistem sosial tertentu. Struktur sosial juga menunjukkan hubungan antaranggota dari sistem sosial. Hal ini dapat dilihat pada struktur organisasi suatu perusahaan atau struktur sosial masyarakat suku tertentu. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers dan Kincaid di Korea menunjukkan bahwa adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik individu dan juga sistem sosial tempat individu tersebut berada.

Norma adalah suatu pola perilaku yang dapat diterima oleh semua anggota sistem sosial yang berfungsi sebagai panduan atau standar bagi semua anggota sistem sosial. Sistem norma juga dapat menjadi faktor penghambat untuk menerima suatu ide baru. Hal ini sangat berhubungan dengan derajat kesesuaian (compatibility) inovasi dengan nilai atau kepercayaan masyarakat dalam suatu sistem sosial. Jadi, derajat ketidaksesuaian suatu inovasi dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut oleh individu (sekelompok masyarakat) dalam suatu sistem sosial berpengaruh terhadap penerimaan suatu inovasi.

Pemimpin opini yaitu orang-orang tertentu yang mampu mempengaruhi sikap orang lain secara informal dalam suatu sistem sosial. Pemimpin opini dapat menjadi pendukung inovasi atau sebaliknya, menjadi penentang. Ia (mereka) berperan sebagai model di mana perilakunya (baik mendukung atau menentang) diikuti oleh para pengikutnya. Jadi, pemimpin opini (opinion leaders) memainkan peran dalam proses keputusan inovasi.

Agen peubah merupakan bentuk lain dari pemimpin opini. Mereka sama-sama orang yang mampu mempengaruhi sikap orang lain untuk menerima suatu inovasi. Akan tetapi, agen peubah lebih bersifat formal yang ditugaskan oleh suatu agen tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Agen peubah adalah orang-orang profesional yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Dengan demikian, kemampuan dan keterampilan agen peubah berperan besar terhadap diterima atau ditolaknya inovasi tertentu. Sebagai contoh, lemahnya pengetahuan tentang karakteristik struktur sosial, norma dan orang kunci dalam suatu sistem sosial (misal: suatu institusi pendidikan), memungkinkan ditolaknya suatu inovasi walaupun secara ilmiah inovasi tersebut terbukti lebih unggul dibandingkan dengan yang sedang berjalan saat itu.


Referensi
Rogers, Everett M. 1983. Diffussion of Innovation. Canada: The Free Press of Macmillan Publishing Co.

Plomp, Tjeerd dan Donald P. Ely. 1996. International Encyclopedia of Educational Technology. Cambridge UK: Elsevier Science Ltd.